*-*Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh*-*
Photobucket
Masjid Al-Qalam adalah simbol pencitraan Islam ditengah-tengah umat lain. Di resmikan oleh DR. Muhammad Natsir(seorang tokoh dunia Islam) pada 1989. Hingga kini telah menjadi salah satu Pusat Pendidikan Islam Terpadu di Depok. Lokasi masjid dan Sekolah Islam Terpadu yang sangat berdekatan dengan belasan gereja yang berdiri megah dan beberapa lembaga pendidikan Kristen dan Katolik. Alhamdulillah, selama ini eksistensinya telah menjadi contoh perdamaian dan toleransi antar ummat beragama, baik di Indonesia maupun dunia Internasional. Rehab masjid Al-Qalam menjadi masjid yang kokoh dan artistik merupakan upaya peningkatan pencitraan Islam, karena itu menjadi kewajiban kolektif seluruh kaum muslimin dan masyarakat dunia Islam berpatisipasi untuk terlaksananya rehab masjid tersebut.

27 Agustus 2008

MARHABAN YA RAMADHAN

SEGENAP PANITIA REHAB MASJID AL-QALAM DEPOK MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1429H



Bulan suci Ramadhan datang kembali. Rasulullah SAW dan para sahabat, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kalimat: "Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang wahai Ramadhan."

Rasulullah, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti jejak risalah Islamiyah sampai akhir zaman, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh suka cita, dan menangis saat ditinggalkan bulan Ramadhan.

Karena keistimewaannya, inilah bulan yang selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia.

Pada bulan ini seluruh umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Pada bulan ini, Al−Qur'an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dengan yang batil, diturunkan untuk seluruh umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan pelipatgandaan ganjarannya. Pada bulan ini, rahmat dan ampunan Allah dibuka seluas−luasnya, dan pintu neraka ditutup rapat−rapat.

Sebelas bulan yang lalu, kita menjalani kehidupan yang hingar bingar. Kini tiba saatnya untuk kembali merenungi hakikat keberadaan kita di dunia, dengan memugar kembali potensi iman di dada melalui peningkatan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dengan ibadah shaum Ramadhan, umat Islam disadarkan kembali mengenai hakikat Ihsan, yakni menyembah Allah seakan−akan kita melihat−Nya, dan sesungguhnya memang Allah melihat kita.

Jika saja, seluruh umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, mampu melestarikan sikap mental menghadirkan Allah pada segenap aspek hidup dan kehidupannya, pastilah bangsa ini tidak perlu mengalami krisis multidimesional berkepanjangan seperti yang kita alami sekarang.

Dengan seruan menegakkan shalat berjama'ah, qiyamullail, tadarus Al−Qur'an, memperbanyak shadaqah, dan menunaikan zakat fitrah sebagai bagian integral dari amaliahnya, Ramadhan tidak hanya membina dan mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga mendesak umat Islam untuk mewujudkan kesalehan sosial.

Melalui bulan Ramadhan, umat Islam disegarkan kembali komitmennya pada ajaran sejati Islam sebagai pengemban missi rahmatan lil'alamin.

Oleh karena itu, Ramadhan sesungguhnya sarana awal untuk mengukuhkan kembali jati diri Muslim, memasuki hari−hari panjang pada sebelas bulan sesudah Ramadhan. Hanya mereka yang mampu melestarikan dan mengembangkan seluruh gemblengan selama Ramadhan pada sebelas bulan sesudah bulan suci inilah, yang berhak meraih predikat muttaqin, seperti digambarkan dalam Q.S.Al−Baqarah ayat 183: "Wahai orang−orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang−orang yang bertaqwa."

Sangat logis sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa siapapun yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, semata−mata berdasarkan keimanan dan mengharap ridha Allah (iimaanan wahtisaaban), akan diampuni seluruh dosa−dosanya yang telah lalu.

Hanya mereka yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan secara demikian sajalah, yang kelak akan kembali ke fitrah sejati kemanusiaannya ('Idul fitri) yang hanif: selalu memihak kepada kebaikan, kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

Tentu tidak mudah untuk meraih predikat seperti di atas. Bahkan, bukan tidak mungkin kita terkena sabda Rasul yang lain: "Betapa banyak mereka yang melaksanakan puasa, tidak memperoleh ganjaran apa−apa, kecuali lapar dan dahaga."

Hal tersebut antara lain karena pada hakikatnya, seperti digambarkan dalam Q.S. Al−Hijr dan At−Tiin, manusia adalah muhajir (pengembara) di antara kebaikan dan keburukan.

Marilah kita manfaatkan dengan sungguh−sungguh momentum bulan Ramadhan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas keimanan umat Islam Indonesia yang dibuktikan dengan meningkatnya kualitas kesalehan sosial, sehingga makin menumbuhsuburkan misi utama ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Baca Selengkapnya...

08 Juli 2008

Gerakan Memakmurkan Masjid

anyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS 9:18, At Taubah)


Menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat hingga tahun 1998 telah tercatat Masjid dan Mushalla di Indonesia tidak kurang dari 600.000 buah (Drs. A. Yani, Panduan Memakmurkan Masjid). Berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004 Jumlah Masjid di Indonesia 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 sebesar 392.044 buah, (myquran.org, 24-12-2005). Diperkirakan, jumlah Masjid dan Mushala di Indonesia saat ini antara 600.000 - 800.000 buah.

Alhamdulillah, jumlah Masjid di Indonesia semakin bertambah dan, insya Allah, akan terus bertambah. Secara kuantitatif jumlah tersebut cukup menggembirakan, hanya saja secara kualitatif masih sangat memprihatinkan. Karena banyaknya Masjid kurang diikuti dengan semaraknya umat dalam memakmurkannya.

Sesungguhnya umat Islam memang memiliki ghirah yang tinggi dalam membangun Masjid, namun banyak yang kurang ditindaklanjuti dengan aktivitas memakmurkannya secara sungguh-sungguh. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan sekaligus menjadi tantangan bagi Departemen Agama, IAIN, Pesantren, Perguruan Tinggi, Organisasi kemasyarakatan (Ormas), Partai politik (Parpol) dan lembaga swadaya (LSM) Islam maupun umat Islam pada umumnya untuk menggairahkan umat dalam memakmurkan Masjid.

Diperlukan adanya usaha-usaha penyadaran umat dalam memakmurkan Masjid, di antaranya melalui Gerakan Memakmurkan Masjid (GMM). Sebuah gerakan yang menyerukan tentang pentingnya memakmurkan Masjid dengan berbagai aktivitas yang berkesinambungan, baik berupa himbauan, kampanye, slogan-slogan, pelatihan-pelatihan, perlombaan-perlombaan, pemberian award, bantuan, supervisi maupun publikasi.


PENGERTIAN

Masjid disamping sebagai tempat beribadah umat Islam dalam arti khusus (mahdlah) juga merupakan tempat beribadah secara luas (ghairu mahdlah) selama dilakukan dalam batas-batas syari'ah. Masjid yang besar, indah dan bersih adalah dambaan kita, namun semua itu belum cukup apabila tidak ditunjang dengan kegiatan-kegiatan memakmurkan Masjid yang semarak.

Kelemahan umat dalam memakmurkan Masjid adalah suatu realita yang harus disikapi dengan sabar serta melakukan langkah-langkah positif yang bisa memperbaiki kondisi. Langkah-langkah perbaikan tersebut haruslah strategis dan bersifat masal. Artinya solusi yang diberikan dapat menjadi jembatan bagi umat untuk bangkit memberdayakan dirinya sendiri dan berlangsung di setiap Masjid. Solusi tersebut juga diharapkan mampu membawa pengaruh besar dalam upaya memakmurkan Masjid. Dan pada gilirannya mampu memunculkan sebuah gerakan masal yang dapat memberi dukungan signifikan bagi kebangkitan Islam.

GMM adalah merupakan upaya secara sistimatis dan berlangsung secara terus menerus untuk menyadarkan dan memberdayakan umat dalam memakmurkan Masjid dengan berbagai aktivitas yang islami. Untuk mencapai hasil yang optimal perlu didukung dengan sistim, aktivitas dan lembaga pemberdayaan Masjid.

Gerakan ini diharapkan dapat berlangsung secara masal dan melibatkan banyak komponen umat, baik Pengurus Masjid, Ulama, Umara, Ustadz, Mubaligh, Intelektual, Aktivis organisasi Islam, Politisi muslim maupun kaum muslimin pada umumnya.


TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan GMM adalah untuk mengaktualisasikan fungsi dan peran Masjid dalam masyarakat Islam di era modern. Dengan mengaktualkan peran dan fungsinya berarti kita telah menempatkan Masjid pada posisinya.

Aktualisasi ini, insya Allah, akan membawa manfaat bagi umat Islam dalam menuju kondisi yang lebih baik dan lebih islami. Dengan demikian Masjid akan menjadi pusat kehidupan umat. Artinya umat Islam menjadikan Masjid sebagai pusat aktivitas (center of activities) jama’ah-imamah serta sosialisasi kebudayaan dan nilai-nilai Islam. Bila aktualisasi ini terrealisasi dengan baik, insya Allah, kita akan dapat menyaksikan para Imam Masjid yang juga menjadi pimpinan umat, baik itu sebagai kepala negara, kepala wilayah, kepala daerah maupun pimpinan lokal atau lembaga informal.

Mengaktualkan kembali fungsi dan peran Masjid adalah suatu jawaban yang tepat, apabila kita benar-benar menginginkan kembali kepada Islam. Sebab di Masjid inilah kita mengabdi kepada Allah, berjama’ah dalam shaf-shaf yang teratur, sikap dan perilaku egaliter dapat kita rasakan, kebersamaan dan ukhuwah islamiyah nampak terwujud serta rasa saling mengasihi sesama muslim terbentuk dengan baik. Di Masjid pula ghirah Islam dan kesatuan jama’ah menjadi nyata.


STRATEGI

GMM tidak bisa berlangsung dengan sendirinya, perlu langkah-langkah strategis yang mampu memberi dukungan, di antaranya adalah:

1. Kampanye Gerakan Memakmurkan Masjid (GMM)
GMM harus dikampanyekan agar memperoleh sambutan umat yang luas. Pemerintah, khususnya Departemen Agama, harus mengambil posisi terdepan dalam kampanye ini. Para tokoh umat Islam, baik Politisi, Ulama, Ustadz, Mubaligh, pimpinan masyarakat, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), Ormas Islam, perguruan tinggi, sekolaah, profesional, mahasiswa, pelajar dan terutama aktivis Masjid juga harus memberi dukungan. Kampanye GMM dapat diwujudkan dalam bentuk:

a. Pembangunan Masjid di kantor-kantor pemerintah, perusahaan, bandara, stasiun, terminal, pabrik, rumah sakit, plaza / mall, pasar, kampus perguruan tinggi, sekolah dan pemukiman penduduk.

b. Menyelenggarakan aktivitas, baik umum maupun keagamaan, dengan menggunakan Masjid dan lingkungannya sebagai tempat penyelenggaraan.

c. Publikasi aktivitas kemasjidan dan anjuran untuk memakmurkan Masjid melalui media massa: koran, majalah, radio televisi dan internet.

d. Tauladan para tokoh masyarakat dan public figure dalam memakmurkan Masjid, khususnya dalam menegakkan shalat berjama’ah di Masjid.

e. Pemberian penghargaan berupa Mosque Award kepada Masjid yang berprestasi dengan kriteria tertentu.

2. Mengembangkan wacana dan pedoman untuk memakmurkan Masjid.
Salah satu solusi penting dalam GMM adalah memperbaiki sistim organisasi dan management Masjid. Karena tanpa organisasi dan management yang baik, Pengurus tidak akan mampu berkreasi secara optimal, aktivitasnya akan sangat terbatas dan banyak mengalami kendala.

Diperlukan karya-karya intelektual di bidang organisasi dan management yang bernuansa Islam dan mampu memberi petunjuk bagi umat dalam mengelola Masjid. Dan dibutuhkan sekali informasi dan pedoman kemasjidan baik secara filosofis, konsepsional maupun teknis-operasional. Sehingga umat mendapatkan banyak pilihan untuk menyelenggarakan aktivitas kemasjidan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Diharapkan karya-karya tersebut mampu memberi arahan hingga detail aktivitas dan mudah diaplikasikan secara riil. Sehingga membantu dalam menyusun manual, standard operation procedures, work instructions dan activity forms dalam mengelola aktivitas kemasjidan.

Selain hadirnya berbagai wacana dalam organisasi dan management Masjid juga diperlukan upaya-upaya untuk menyebarluaskannya. Wacana-wacana tersebut seharusnya dipublikasikan dalam bentuk buku-buku cetakan yang mudah didapatkan oleh aktivis Masjid dan umat Islam pada umumnya.

Hal ini memerlukan keseriusan pemerintah, khususnya Departemen Agama, dan dukungan para penerbit maupun donatur muslim yang concern terhadap da’wah islamiyah melalui lembaga kemasjidan.

3. Pelatihan dan supervisi organisasi dan management Masjid.
Langkah lain yang tidak kalah penting adalah memberikan pelatihan-pelatihan yang sistimatis, yang ditujukan kepada para aktivis Masjid, baik Ta’mir Masjid, Remaja Masjid, Majelis Ta’lim Ibu-Ibu, Taman Pendidikan Al Quraan dan lain sebagainya. Para aktivis Masjid mengikuti sistim pelatihan yang terstruktur, baik dalam rangkaian seri pelatihan maupun berupa pelatihan khusus. Beberapa jenis pelatihan yang perlu mereka ikuti di antaranya adalah:

a. Pelatihan Organisasi Ta’mir Masjid.

b. Pelatihan Pedoman Aktivitas Ta’mir Masjid.

c. Pelatihan Kepemimpinan Masjid.

d. Pelatihan Training of Trainers (TOT).

e. Pelatihan Training for Trainers (TFT).

f. Pelatihan Management Majelis Ta’lim Ibu-ibu.

g. Pelatihan Kepemimpinan Remaja Masjid.

Setelah mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut, mereka dibimbing untuk melakukan implementasi. Materi-materi pelatihan yang telah dipelajari diaplikasikan dalam aktivitas kemasjidan masing-masing peserta di bawah supervisi lembaga pemberdayaan Masjid. Implementasi disesuaikan dengan kondisi aktual masing-masing Masjid. Sistim organisasi dan management modern diujicobakan, dievaluasi, dibuat standard dan diperbaiki secara terus menerus (continuous improvements).

4. Membentuk lembaga pemberdayaan Masjid.
Untuk merealisasikan fungsi dan peran Masjid di era milenium ke-3 diperlukan lembaga-lembaga kemasjidan yang mampu mengadopsi organisasi dan management modern. Sehingga aktivitas yang diselenggarakan dapat menyahuti kebutuhan umat serta berlangsung secara berdaya guna (efektif) dan berhasil guna (efisien). Kebutuhan akan lembaga kemasjidan yang profesional semakin tidak bisa ditawar mengingat kompleksitas kehidupan manusia akibat proses globalisasi, kemudahan transportasi, kecepatan informasi maupun kemajuan teknologi.

Kehadiran lembaga-lembaga kemasjidan tersebut perlu dibantu dan dipercepat dengan lembaga pemberdayaan Masjid, yang merupakan organisasi LSM, seperti misalnya Institut Management Masjid. Lembaga ini berperan sebagai katalisator GMM dengan melakukan pengkajian, pelatihan, publikasi dan supervisi (konsultasi) masalah-masalah kemasjidan, khususnya management Masjid.

5. Mengembangkan jaringan Masjid secara luas.
GMM memerlukan adanya Jaringan Kerja Antar Masjid (JKAM). Jaringan kerja (network) ini merupakan forum silaturrahmi yang beranggotakan lembaga-lembaga kemasjidan di suatu daerah (kota), wilayah (propinsi) maupun secara nasional. Tujuan dibentuknya JKAM adalah untuk:

a. Mempererat tali silaturrahmi antar lembaga kemasjidan.

b. Memperkokoh ukhuwah islamiyah.

c. Menggalang kekuatan Islam.

d. Menyamakan persepsi, visi dan misi.

e. Membentuk aktivitas da’wah yang lebih luas.

f. Menyelenggarakan kerja sama da’wah.

Dengan adanya JKAM, insya Allah, akan diperoleh banyak manfaat, di antaranya adalah:

a. Terwujudnya silaturrahmi dan ukhuwah islamiyah secara nyata.

b. Bersatunya potensi umat dalam memakmurkan Masjid secara sistimatis.

c. Memperkokoh kekuatan Islam, sehingga memiliki bargaining position dalam konstelasi masyarakat.

d. Menjadi jembatan antar lembaga kemasjidan untuk saling bekerja sama dalam menyelenggarakan berbagai aktivitas.

e. Membentuk sinergi team antar lembaga kemasjidan.

f. Mampu melaksanakan da’wah islamiyah dan ‘amar ma’ruf nahi munkar secara lebih offensive, tidak hanya sekedar defensive.

Aktivitas disusun dalam bentuk Program Kerja yang direncanakan secara periodik dan digunakan sebagai rekomendasi bagi masing-masing lembaga kemasjidan yang menjadi anggotanya. Berikut ini contoh beberapa aktivitas yang diagendakan, yaitu antara lain:

a. Pelatihan kader.

b. Pertukaran mubaligh.

c. Penyusunan materi da’wah.

d. Bakti sosial.

e. Pengajian akbar.

f. Sosialisasi pelaksanaan syari’ah Islam.

g. Demonstrasi damai / show of force.

h. Dan lain sebagainya.


Baca Selengkapnya...

Masjid : Syurga Dunia Para Ibadurrahman

Adalah sekelompok muslim yang taat kepada Rabb mereka yang memenuhi panggilan masjid-masjid yang tersebar di seluruh dunia, tidak harus ke Masjidil Haram atau pun Masjidil Aqsha, tetapi masjid adalah tempat terdekat antara seorang hamba dengan Sang Kholiq. Inilah persinggahan sementara hamba-hamba yang beribadah karena merindu Rabb mereka. Inilah syurga dunia bagi para ’Ibadurrahmaan.

”Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”

QS. Al-Jin : 18

Mari kita wujudkan syurga itu sebagai tempat layaknya bayangan manusia terhadap syurga. Setidaknya jagalah kebersihannya, kerapihannya, kesuciannya, keamanannya, ketersediaan fasilitas dan mudahkanlah hamba-hamba yang ingin kembali kehadapan Rabb-nya sekadar untuk lima atau sepuluh menit.


Dan sungguh syurga itu bukan sekadar berbicara tentang tempat, ia juga berbicara tentang orang-orang di dalamnya. Tentang betapa murah senyum dan salam mereka, tentang betapa akur dan bersahabat para penghuninya, dan tentang kedekatan silaturrahiim dan lapang hati saat terjadi hal-hal yang kurang berkenan. Tak lupa tentang amannya seorang hamba dari gangguan lisan dan tangan sahabatnya.

Inilah hal pertama yang harus Anda percayai, bahwa masjid adalah tempat terbaik baik kaum muslimin, tempat yang menghubungkan mereka dengan Rabb-nya dalam ibadah yang berkualitas

Baca Selengkapnya...

16 Juni 2008

Tauladan Rosulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,
"Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan
dipengaruhinya" .
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yangmenyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat
Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".
Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja".
"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan
makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana ", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik,
"Siapakah kamu?".
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , bantah si pengemis buta itu.
"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku,
tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu,
"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang
dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar
RA, dan kemudian berkata,
"Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya,
ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA
saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah
SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah
baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.
Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai
Rasulullahmu. ..
Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya?
MasyaAllah.. ..macam meter taxi...jalan terus.

Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.
1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan
hasanah.
2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda
dapat hasanah.
4. Bantu pendidikan seorang anak.
5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat
hasanah.
6.. Bagi CD Quran atau Do'a.
7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.
8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.
9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah..
10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah
satu dari hal diatas, Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat.
Aminnnnnn...<

Baca Selengkapnya...